Pergantian tongkat kepemimpinan di Korlantas Polri tidak mengubah satu prinsip dasar: kondisi prima pengemudi tetap menjadi faktor penentu keselamatan di jalan raya. Kakorlantas Polri yang baru, Irjen Pol. Wibowo, S.I.K., M.Hum., menegaskan bahwa keselamatan lalu lintas—termasuk risiko kelelahan pada pengemudi jarak jauh—bukan tanggung jawab satu pihak, melainkan kerja kolektif yang melibatkan pemerintah, pemangku kepentingan, hingga masyarakat itu sendiri.
Perjalanan jauh selalu menyimpan risiko yang sama: kantuk yang dipaksakan, konsentrasi yang menurun, dan keputusan untuk terus melaju tanpa jeda istirahat yang cukup. Pola ini telah lama menjadi perhatian Korlantas Polri, dan kini menjadi bagian dari agenda yang diteruskan oleh kepemimpinan baru.
Irjen Pol. Wibowo resmi dilantik sebagai Kakorlantas Polri pada Sabtu, 4 Juli 2026, menggantikan Irjen Pol. Agus Suryonugroho yang memasuki masa purnatugas. Pelantikan berlangsung di Rupattama Mabes Polri, Jakarta, dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, bersamaan dengan serah terima jabatan sejumlah pejabat utama Mabes Polri dan enam Kapolda.
Dalam sertijab tersebut, Irjen Agus menitipkan sejumlah agenda strategis kepada penerusnya—mulai dari program Polantas Menyapa, Digital Korlantas, hingga transformasi digital pelayanan lalu lintas. Pesan itu menegaskan bahwa program-program keselamatan yang telah dirintis, termasuk edukasi soal bahaya kelelahan bagi pengemudi jarak jauh, diharapkan terus berjalan di bawah kepemimpinan baru.
Beberapa hari setelah dilantik, Irjen Wibowo mulai menunjukkan arah kebijakannya. Dalam acara silaturahmi Kakorlantas Polri di Gedung NTMC Polri, Jakarta, pada Selasa (7/7), ia menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan keselamatan lalu lintas tidak bisa dibebankan kepada satu institusi semata. “Tidak ada keberhasilan lalu lintas itu karena satu orang, satu kementerian, atau satu instansi. Keberhasilan itu karena semua kementerian, semua stakeholder terkait, pemerintah daerah, termasuk masyarakat itu sendiri,” tegasnya, sembari menggaungkan semangat “Semua Karena Kita” sebagai landasan kerja Korlantas ke depan.
Prinsip kolaborasi ini relevan dengan persoalan kelelahan pengemudi angkutan barang dan jarak jauh, yang selama ini bukan semata soal kedisiplinan individu, melainkan juga menyangkut kebijakan perusahaan logistik dalam menetapkan target pengiriman, ketersediaan tempat istirahat yang layak di jalur strategis, serta pengawasan di lapangan. Wibowo turut mengapresiasi fondasi yang telah dibangun pendahulunya, dengan menyebut capaian-capaian Irjen Agus sebagai pijakan penting untuk melanjutkan tugas ke depan, termasuk dalam hal menurunkan angka kecelakaan dan fatalitas korban di jalan raya.
Pesan yang pernah berulang kali disampaikan Irjen Agus semasa menjabat pun tetap relevan sebagai warisan kebijakan yang perlu terus digaungkan: “Lebih baik berhenti sejenak untuk beristirahat daripada memaksakan diri dalam kondisi lelah. Cepat sampai tidak pernah lebih penting daripada pulang dengan selamat.” Prinsip ini menjadi bagian dari budaya keselamatan yang diharapkan terus hidup di lingkungan Korlantas, terlepas dari siapa yang memimpin.
Di lapangan, personel Patroli Jalan Raya (PJR) tetap menjadi ujung tombak dalam menerjemahkan pesan ini secara langsung—mengarahkan pengemudi truk yang beristirahat di lokasi berisiko seperti bahu jalan tol menuju tempat istirahat yang lebih aman. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa keberlanjutan kebijakan keselamatan tidak bergantung pada pergantian pucuk pimpinan, melainkan pada konsistensi implementasi di setiap lini organisasi.
Menurut Wibowo, tantangan lalu lintas ke depan akan semakin kompleks, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan perkembangan teknologi transportasi. Dalam konteks itu, menjaga kondisi prima pengemudi—khususnya mereka yang menempuh perjalanan jarak jauh membawa muatan barang—tetap menjadi salah satu variabel penting yang tidak bisa dilepaskan dari upaya besar menekan angka kecelakaan, sejalan dengan semangat kolaboratif yang kini diusung kepemimpinan baru Korlantas Polri menuju agenda keselamatan berkelanjutan, termasuk target Zero ODOL 2027.
